Anonymous asked:
Honestly I wouldn’t say I’m truly a fan of any celebrity. The people I actually have respect and admiration for are doctors, teachers, scientists, even mothers… people who quietly contribute to the running of our society. There’s so much corruption and evil in this world, on a massive scale. But it’s the everyday people like this, who genuinely have good hearts and pure intentions, who help others, that restore some of my faith in humanity.
So do i
I just want to see you happy, always. I want Allah to give you that.
Saya selalu berpikir; andai saya punya jutaan follower seperti seleb-seleb sosmed itu. Berapa banyak bantuan yang bisa saya dapatkan untuk merenovasi sekolah di Lombok Timur. Berapa banyak anak-anak yang bersekolah tanpa sepatu yang bisa saya bantu melalui jutaan follower itu. Berapa banyak proyek sosial yang kemungkinan berhasil karena keterlibatan orang banyak. Kadang saya begitu iri dengan seleb sosmed. Iri bukan atas apa yang ia lakukan, bukan pula atas status yang ia punya. Iri karena kesempatan memperluaskan pundi kebaikan melalui jutaan follower itu begitu besar.
Tapi kemudian saya merenung; belum tentu pula pada saat saya memiliki jutaan follower, idealisme altruistik saya masih bercokol di kepala. Andai saja saya benar-benar punya follower sebanyak itu, lalu saya menularkan sesuatu yang buruk, bagaimana nanti di akhirat? Bukankah manusia memang gemar berkhayal, ketika tercapai ia lupa janji-janji manis dahulu? Bagaimana jika justru saya menjadi inspirasi keburukan?
Bayangkan jika kita membagikan sesuatu yang melalaikan mereka dari mengingat Tuhan. Alih-alih mengajak membaca al-Quran, malah mengajak untuk mendengarkan lirik-lirik yang mereduksi keimanan. Alih-alih menjadi teladan untuk dakwah produktif, malah bersolek, lenggak-lenggok bertopeng jilbab mengajak untuk konsumtif. Yuk, beli jilbabnya, sis! Yuk, beli pemutihnya, sis! Yuk, beli ini, beli itu. Menjejalkan pengikut yang banyak itu dengan tulisan mendayu-dayu soal cinta melulu. Atau saat saudara-saudari muslim dihujani peluru di Suriah, kita justru euforia dengan bola. Tak henti-henti terbahak dan membagi kebahagiaan sebundar bola.
Memiliki banyak pengikut itu justru tanggung jawabnya besar. Sama halnya memiliki harta yang kelak tiap penggunaannya akan dipertanggungjawabkan. Apalagi soal ajakan, di mana sekali orang lain mengikuti kejelekkan yang kita bagikan, selama itu pula catatan keburukan di buku sebelah kiri nanti akan bertambah. Jika kita bisa menjadikannya sebagai sarana menyebarkan kebaikan, malah menjadi tabungan yang akan menyelamatkan kita di hari perhitungan.
I’ve just read it.
And yes,
i was sorry for.
Alhamdulillah ada kesempatan nulis lagi haha
Silahkan ditengok, mudah-mudahan ada kebaikan yang bisa diambil ya ^^
أشياء جميلة تنتظر الذين صبروا
Beautiful things await those who are patient
Hey, i hope you’re fine..
Anonymous asked:
Sehaaaaaaat Alhamdulillahh wehehe.
#PertanyaanDariKapandahIni
Anonymous asked:
Alhamdulillah sehat…..di alam sana :’)
waktu liburan taun baru kemarin ditinggal, terus gak ada yg ngurus, terus mati :(
“Dan kesejahteraan bagi dirinya pada hari lahirnya, pada hari wafatnya, dan pada hari dia dibangkitkan kembali”
QS. Maryam: 15
Anonymous asked:
Waaah aku berisik ya di tumblr? :( jd malu wkwkwk.
Gadeng hehe paham kok..
Hem akhir2 ini lebih suka nulis di tempat lain, non. Bukan karna akun2 tumblr udh diblokirin sih, tapi krn aku ngerasa too many eyes staring at me on tumblr #YailahPedeAmat.
Haha serius2, bukannya kepedean, tp akhir2 ini lg banyak kepikiran tentang hal2 yg menurutku kurang oke diketahui banyak orang. Jadi aku lagi lebih suka nulis di blogspot, entah itu dipost di sana atau sekedar jadi draft di sana. Kalo yg lebih private biasanya cuma kudraft. Soalnya tulisan2ku di situ gak muncul di timeline org2 X’)
